BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pada
zaman sekarang ini berbagai macam penyakit terus ditemukan dan terus
berkembang seiring dengan perkembangan
zaman baik pola penularan, pencegahan, pengobatan serta penyebabnya pun
berbeda, mulai dari penyakit ringan hingga yang sulit disembuhkan
DBD
bukanlah merupakan penyakit baru, namun tujuh tahun silam penyakit inipun telah
menjangkiti 27 provinsi di Indonesia dan menyebabkan 16.000 orang menderita,
serta 429 jiwa meninggal dunia, hal ini terjadi sepanjang bulan Januari sampai
April 1998 (Tempo, 2004). WHO bahkan memperkirakan 50 juta warga dunia,
terutama bocah-bocah kecil dengan daya tahan tubuh ringkih, terinfeksi demam
berdarah setiap tahun. Penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD ) merupakan
penyakit endemis di Indonesia dan sampai saat ini masih merupakan masalah utama
kesehatan masyarakat. Penyakit Demam Berdarah disebabkan oleh infeksi virus
Dengue (Soegijanto, 2006)
Berbagai
upaya pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD) telah dilaksanakan
meliputi : promosi kesehatan tentang pemberantasan sarang nyamuk, pencegahan
dan penanggulangan faktor resiko serta kerja sama lintas program dan lintas
sector terkait sampai dengan tingkat desa /kelurahan untuk pemberantasan sarang
nyamuk. Masalah utama dalam upaya menekan angka kesakitan DBD adalah belum
optimalnya upaya pergerakan peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang
nyamuk Demam Berdarah Dengue. Oleh karena itu partisipasi masyarakat dalam
pemberantasan sarang nyamuk DBD tersebut perlu di tingkatkan antara lain
pemeriksaan jentik secara berkala dan berkesinambungan serta menggerakan
masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD. ). Linkungan bersih merupakan dambaan semua
orang. Namun tidak mudah untuk menciptakan lingkungan kita bisa terlihat bersih
dan rapi sehingga nyaman untuk dilihat. Tidak jarang karena kesibukan dan
berbagai alasan lain, kita kurang memperhatikan masalah kebersihan lingkungan
di sekitar kita, terutama lingkungan rumah.
Seiring majunya tingkat pemikiran masyarakat serta kemajuan teknologi di
segala bidang kehidupan, maka tingkat kesadaran untuk memiliki lingkungan
dengan kondisi bersih seharusnya ditingkatkan dari sebelumnya. Beragam
informasi mengenai pentingnya lingkungan dengan kondisi bersih serta sehat
dapat diketahui melalui media cetak dan online.
Tentu
saja lingkungan dalam kondisi bersih serta sehat akan membuat para penghuninya
nyaman dan kesehatan tubuhnya terjaga dengan baik. Kesehatan tubuh manusia
berada pada posisi paling vital. Alasannya tentulah mengarah pada keberagaman
kegiatan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Musim hujan tiba maka perlu
diwaspadai adanya genangan – genangan air yang terjadi pada selokan yang buntu,
gorong – gorong yang tidak lancar serta adanya banjir yang berkepanjangan,
perlu diwaspadai adanya tempat reproduksi atau berkembangbiaknya nyamuk pada
genangan – genangan tersebut sehingga dapat mengakibatkan musim nyamuk telah
tiba pula, itulah kata-kata yang melakat pada saat ini. saatnya kita melakukan
antisipasi adanya musim nyamuk dengan cara pengendalian nyamuk dengan
pendekatan perlakukan sanitasi lingkungan atau non kimiawi yang tepat sangat
diutamakan sebelum dilakukannya pengendalian secara kimiawi.
Selama ini semua manusia pasti mengatahui dan mengenal serangga yang disebut
nyamuk. Antara nyamuk dan manusia bisa dikatakan hidup berdampingan bahkan
nyaris tanpa batas. Namun, berdampingannya manusia dengan nyamuk bukan dalam
makna positif. Tetapi nyamuk dianggap mengganggu kehidupan umat manusia. Meski
jumlah nyamuk yang dibunuh manusia jauh lebih banyak daripada jumlah manusia
yang meninggal karena nyamuk, perang terhadap
Berdasarkan latar belakang masalah
tersebut, maka kami tertarik untuk melakukan kajian khusus tentang upaya
pencegahan Penyakit DBD, Di kelurahan Mokoau.
1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa sebenarnya penyakit demam berdarah
dan apa penyebabnya?
2. Bagaimana cara memberantas penyakit
demam berdarah agar tidak mewabah ?
3. Bagaimana upaya masyarakat dalam
mencegah Timbulnya penyakit DBD?
1.3.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu penyakit DBD,
dan penyebabnya
2. Untuk mengetahui cara memberantas
penyakit demam berdarah agar tidak mewabah
3. Untuk mengetahui upaya masyarakat dalam
mencegah timbulnya penyakit DBD
1.4.Manfaat
penelitian
1. Bagi masyarakat diharapkan agar hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi mengenai penyakit DBD,
bagaimana upaya masyarakat dalam mencegah timbulnya penyakit DBD
2. Bagi pemerintah hasil penelitian ini
dapat dijadikan bahan dan informasi dalam mengambil keputusan atau kebijakan
yang berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit DBD
3. Sebagai bahan masukan bagi peneliti
berikutnya khususnya yang melakukan kajian yang relevan dengan masalah ini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Upaya
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia,
kata upaya berati usaha, ikhtiar, untuk mencapai suatu maksud, memecahkan
persoalan, mencari jalan keluar. Berdasarkan makna dalam kamus Besar
Bahasa Indonesia itu, dapat disimpulkan bahwa kata upaya memiliki kesamaan arti
dengan kata usaha, dan demikian dengan kata ikhtiar, dan upaya yang dilakukan
dalam rangka mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar.
2.2. Konep Masyarakat
Masyarakat
(sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk
sebuah sistem
semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah
antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata
"masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak.
Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan
antar entitas-entitas.
Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung
satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok
orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut
Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah
masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama.
Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka
berdasarkan kemaslahatan. Masyarakat sering diorganisasikan
berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial
mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu,
masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan
masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban.
Sebagian pakar
menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok
masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.
Masyarakat
dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan
kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan
masyarakat negara.
Pengertian
Masyarakat Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok
orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana
sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam
kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam
bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu
jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah
komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya,
istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama
dalam satu komunitas yang teratur. Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani,
sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki
pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan
tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata
pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu,
masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat
agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar
menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat
yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional. Masyarakat dapat pula
diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan
kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan
masyarakatnegara. Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang
berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata
socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata
sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya
mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama. B.
Unsur Masyarakat 1. Manusia yg hidup bersama. Didalam ilmu sosial tak ada
ukuran yg mutlat atau angka yg pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yg
harus ada. Akan tetapi secara teoritis, angka minimnya adalah dua orang yg
hidup bersama. 2. Bercampur untuk waktu yg cukup lama . Kumpulan dari manusia
tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti kursi, meja dsb. Oleh
karena dengan berkumpulnya manusia, maka akan timbul manusia-manusia baru.
Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti ; mereka juga
mempunyai keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau perasaan-perasaannya.
Akibat hidup bersama maka timbullah sistem komunikasi dan peraturan2an yg
mengatur hubungan antar manusia dalam kelompok tersebut. 3 . Mereka sadar bahwa
mereka merupakan suatu kesatuan. d. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama
. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap anggota
kelompok merasa dirinya terikat satu dengan lainnya. Istilah Masyarakat biasa
dipakai pada ilmu Antropologi budaya Sosiologi Psikologi sosial. Sedangkan
Istilah Rakyat dan Bangsa banyak dipakai pada ilmu : Ilmu Politik Ilmu
Administrasi Ilmu Ekonomi Rakyat yaitu keseluruhan penduduk suatu daerah tanpa
melihat pada cara bergaulnya atau cara hidupnya . Yang penting disini adalah
faktor kehendak umum yang diekspresikan oleh seluruh penduduk setempat .
Apabila dilihat dari sudut ilmu politik , istilah rakyat dipakai untuk
membedakan rakyat dengan pemerintahannya , Pemerintah yg menguasai dan rakyat
yang diperintah . Jadi istilah rakyat menunjuk pada : A.Sejumlah besar
penduduk. B.Yang mempunyai kehendak umum bersama. C.Dihadapkan pada pemerintah
yg mengatur dan memerintah kehendak tadi
2.3. Konsep pencegahan penyakit
Pencegahan
penyakit adalah upaya mengarahkan sejumlah kegiatan untuk melindungi klien dari
ancaman kesehatan potensial.dengan kata lain, pencegahan penyakit adalah upaya
mengekang perkembangan penyakit, memperlambat kemajuan penyakit, dan melindungi
tubuh dari berlanjutnya pengaruh yang lebih membahayakan. . Pengertian Pencegahan
Pencegahan adalah mengambil suatu tindakan yang diambil
terlebih dahulu sebelum kejadian, dengan didasarkan pada data/keterangan yang
bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan/penelitian
epidemiologi (Nasry, 2006). Pencegahan merupakan komponen yang paling penting
dari berbagai aspek kebijakan publik (sebagai contoh pencegahan kejahatan,
pencegahan penyalahgunaan anak, keselamatan berkendara), banyak juga yang
berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung untuk kesehatan. Konsep
pencegahan adalah suatu bentuk upaya sosial untuk promosi, melindungi, dan
mempertahankan kesehatan pada suatu populasi tertentu (National Public Health
Partnership, 2006).
2.4. Konsep penyakit DBD
Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan
gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga
mengakibatkan perdarahan-perdarahan.
Penyakit ini banyak ditemukan
didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di
seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti
Bidan dan Pak Mantri ;-) seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena
kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes
(Typhoid).
Deman berdarah dengue (DBD)
ditandai dengan adanya gejala demam tinggi akut, dengan masa inkubasi 3-14 hari
(paling umum 4-7 hari) dimana penderita mengalami sakit kepala, nyeri otot,
mual, muntah, kejang-kejang dan terdapat bintik-bintik merah yang terlihat 3-5
hari setelah serangan demam dan dapat menyebar dari tubuh pada bagian lengan,
kaki dan muka. Gejala ini datang seketikay yang biasanya berlangsung selama
seminggu (Jayanton, P,2003)
3.5.
Konsep Kebersihan lingkungan
Kebersihan
lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja, dan berbagai
sarana umum. Kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan banyak cara seperti
menyediakan tempat pembuangan sampah di banyak tempat untuk meminimalisir
pembuangan sampah yang sembarangan, menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan
masih banyak yang lain lagi. Kebersihan lingkungan dimulai dari menjaga
kebersihan di lingkungan sekitar dan mulai dari menjaga kebersihan diri sendiri
yang bersih, indah, asri, nyaman, hijau dan enak
dipandang mata. Kebersihan lingkungan tentu tidak satu tempat saja, misalnya
saja kebersihan kantor yaitu kebersihan lingkungan tempat bekerja, kebersihan
sekolah yaitu kebersihan lingkungan tempat belajar atau menuntuk ilmu, dan lain
sebagainya.
Kebersihan lingkungan hendaknya tidak terpisahkan dari
setiap manusia, lingkungan yang bersih akan memberikan manfaat yang besar
kepada manusia dan sebaliknya lingkungan yang kotor akan memberikan masalah
yang besar kepada manusia. Oleh sebab itu kita wajib menjaga kebersihan
lingkungan sekitar kita, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil dan
mulai dari sekarang.
Yang
dimaksud dengan lingkungan adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam lingkungan
adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada
di dalam ruang yang kita tempati.
Ahmad (1987:3) mengemukakan bahwa
lingkungan hidup adalah sistem kehidupan di mana terdapat campur tangan manusia
terhadap tatanan ekosistem. St. Munajat Danusaputra : Lingkungan
adalah semua benda dan kondisi termasuk di dalamnya manusia dan
aktivitasnya, yang terdapat dalam ruang di mana manusia berada dan mempengaruhi
kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. (Darsono,
1995)
Emil Salim :
Lingkungan hidup adalah segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat
dalam ruangan yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan
manusia Salah seorang ahli ilmu lingkungan, yaitu Otto Soemarwoto
mengemukakan bahwa dalam bahasa Inggris istilah lingkungan adalah
environment. Selanjutnya dikatakan, lingkungan atau lingkungan hidup
merupakan segala sesuatu yang ada pada setiap makhluk hidup atau organisme
dan berpengaruh pada kehidupannya. Contoh, pada hewan seperti kucing, segala
sesuatu di sekeliling kucing dan berpengaruh pada keberlangsungan hidup
kucing tersebut maka itulah lingkungan hidupnya. Demikian pula pada
suatu jenis tumbuhan tertentu, misalnya pohon mangga atau padi di sawah,
segala sesuatu yang mempengaruhi pertumbuhan atau kehidupan tanaman
tersebut itulah ling kungan hidupnya.
Menurut Undang-Undang Rl Nomor 4
Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan
dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menyatakan bahwa lingkungan hidup
merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk
hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya
3.6.
Upaya pencegahan DBD
Untuk mewujudkan program pembangunan
kesehatan di tahun 2015 yaitu MDGs , kita sebagai tenaga kesehatan mempunyai
tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan kesuksesan MDGs 2015 nanti. Sesuai
dengan visi dan misi yang telah di cantumkan bahwa kita sebagai tenaga
kesehatan terutama dalam menggerakan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan demam berdarah sudah tertera
dengan jelas dalam visi MDGs pilar ke dua dan ke empat , yaitu :
(1). Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
(2).Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta
lingkungannya.
Jika kita melihat berdasarkan
literatur surat kabar suara merdeka yang telah ada di atas, yaitu di Semarang
telah di galakkan upaya pencegahan demam berdarah secara bersama-sama yang
melibatkan stackholder. Ternyata untuk mewujudkan kegiatan tersebut membutuhkan
banyak keterlibatan dari berbagai pihak. Tidak hanya dinas kesehatan kota
semarang yang berperan tetapi juga diperlukan keterlibatan dari peran serta
masyarakat untuk mewujudkan kesuksesan program tersebut.
Hal pertama yang perlu kita lakukan
dalam upaya menggerakan peran serta masyarakat adalah meyakinkan kepada
masyarakat setempat bahwa ini masalah kita dan perlu dihadapi bersama-sama
untuk mencari penyelesaianya demi mewujudkan memelihara
dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Tujuan kesehatan pencegahan demam berdarah ini dititik
beratkan pada upaya preventif dan promotif yaitu pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan.
Pemberantasan
atau pengendalian demam berdarah secara garis besar dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu:
1) Pengendalian kimiawi
2) Pengendalian lingkungan
1) Pengendalian kimiawi
2) Pengendalian lingkungan
Cara pengendalian secara kimiawi yang dipakai dalam
program pemberantasan demam berdarah adalah malathion. Dalam upaya pencegahan
secara kimiawi ini lebih di tekankan pada tugas pemerintah daerah setempat.
Cara penggunaan malathion ini dengan pengasapan (thermal fogging) atau
pengabutan (cold fogging). Untuk pemakaian rumah tangga dapat digunakan berbagai
jenis insektida yang disemprotkan di dalam ruangan atau kamar. Pengasapan
dengan malathion sangat efektif untuk pemberantasan vektor demam berdarah ,
namun kegiatan ini tanpa didukung dengan abatisasi, dalam beberapa hari akan
meningkatkan kepadatan nyamuk dewasa yang berasal dari jentik , karena jentik tidak mati dengan pengasapan.
Tujuan abatisasi adalah untuk
menekan kepadatan vektor serendah-rendahnya secara serentak dalam jangka waktu
yang lebih lama, agar transmisi virus selama waktu tersebut dapat diturunkan.
Sedangkan fungsi abatisasi bisa sebagai pendukung kegiatan fogging yang
dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah meningkatnya penderita demam
berdarah .
Cara pengendalian penyebaran demam
berdarah dapat dilakukan dengan cara pemberantasan sarang nyamuk, kegiatan ini
merupakan salah satu pengendalian terhadap lingkungan .Kegiatan ini meliputi
kegiatan menguras bak mandi, tempayan, dan tempat penampungan air minimal satu
kali seminggu karena berkembangnya telur menjadi nyamuk lamanya
tujuh sampai sepuluh hari, menutup rapat tempat penampungan air dan
benda-benda lain yang memungkinkan nyamuk berkembang. Mengubur bahan
bahan yang menjadikan sarang nyamuk berkembang dan selalu memantau keadaan
lingkungan sekitar.
Gerakan pemberantasan sarang nyamuk demam
berdarah merupakan kegiatan pemerintah bersama masyarakat yang
dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit
demam berdarah dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk ini merupakan bagian
dari keseluruhan upaya mewujudkan peran serta masyarakat untuk sadar diri
terhadap kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
Tujuan gerakan pemberantasan sarang
nyamuk demam berdarah dengue adalah membina peran serta masyarakat dalam
pemberantasan penyakit demam berdarah,terutama dalam memberantas jentik nyamuk.
Sasaran gerakan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah adalah semua
keluarga dan pengelola tempat umum. Untuk melaksanakan pemberantasan sarang
nyamuk dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing
sehingga bebas dari jentik-jentik nyamuk aedes aegypti.
Melalui gerakan ini yang sebelumnya
telah di berikan pendidikan kesehatan mengenai demam berdarah diharapkan
keluarga dapat berkonsultasi kepada petugas kesehatan jika ada anggota
keluarga sakit dan diduga menderita penyakit demam berdarah, karena menderita
penyakit ini perlu segera mendapat pertolongan dan keluarga melaporkan kepada
kepala desa atau kelurahan jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit
demam berdarah dengue serta membantu kelancaran penanggulangan penyakit demam
berdarah yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Cara yang paling efektif dalam
mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang
disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras dan mengubur barang-barang yang
bisa dijadikan sarang nyamuk. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti
memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada
waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent,
memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik berkala sesuai dengan kondisi
setempat (Deubel V et al., 2001).
Kegiatannya dapat berupa kerja bakti untuk
membersihkan rumah dan pekarangannya, selokan selokan di samping rumah serta
melakukan 3M ( Menguras kamar mandi (termasuk mengganti air untuk minuman
burung dan air dalam vas bunga), menutup tampungan / tandon air dan mengubur
barang-barang bekas yang mungkin menjadi tempat sarang nyamuk, termasuk pecahan
botol dan potongan ban bekas). Jika diperlukan dapat ditaburkan abate dengan
dosis 10 gr/ 100 liter air, untuk membunuh jentik-jentik pada bak kamar mandi
maupun kolam-kolam ikan di rumah, dalam hal ini masyarakat tidak perlu takut
kalau-kalau terjadi keracunan karena abate ini hanya membunuh jentik nyamuk dan
aman bagi manusia maupun ikan. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam
memutus rantai penularan penyakit demam berdarah adalah dengan pelaksanaan PSN
oleh masyarakat, kemudian dilakukan fogging oleh petugas dan kembali
dilaksanakan PSN oleh masyarakat. Jika cara ini telah dilakukan oleh seluruh
masyarakat secara merata di berbagai wilayah, artinya tidak hanya satu Rt atau
Rw saja, tetapi telah meluas di semua wilayah maka pemberantasan demam berdarah
akan lebih cepat teratasi. Sebab jika hanya satu daerah saja yang melaksanakan
program tersebut namun daerah lainnya tidak, maka dimungkinkan orang yang berasal
dari wilayah yang telah bebas namun berkunjung ke daerah yang masih terdapat
penderita demam berdarah dan tergigit oleh nyamuk Aedes aegypti akan tertular
demam berdarah pula dan dengan cepat penyakit inipun akan tersebar luas
kembali.
Jadi, kesimpulan dari resume diatas
adalah sesuai dengan kata pepatah yaitu mencegah lebih baik dari pada
mengobati. Upaya preventif atau pencegahan demam berdarah secara dini ternyata
mempunyai pengaruh yang besar terhadap suatu keberhasilan . Hal ini dibuktikan
dengan berkurangnya angka penderita demam berdarah yang sebelumnya tinggi angka
kejadianya. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pemerintah yang melakukan
kegiatan pengendalian secara kimiawi dan peran serta masyarakat yang melakukan
kegiatan pengendalian terhadap lingkungan sekitarnya. Harapanya untuk kedepan
adalah terwujudnya peran serta masyarakat yang aktif di seluruh wilayah yang
ada di indonesia tentang sadar diri terhadap lingkungan sekitar seperti
melakukan upaya upaya pencegahan sebelum terjadinya wabah penyakit.
Jika semua masyarakat di indonesia
memiliki perilaku proaktif untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah terjadinya resiko penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi akif dalam gerakan kesehatan masyarakat, tentunya
kesuksesan MDGs 2015 akan menjadi terwujud
dan akan membuat pembangunan kesehatan menjadi lebih maju.
3.7.
Cara
memberantas penyakit DBD
Departemen kesehatan telah
mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi
yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian
strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat
penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut
sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Pencegahan penyakit
DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti
(Rozendaal JA., 1997). Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu:
a.
Lingkungan
Metode lingkungan untuk
mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk dan
perbaikan desain rumah. Sebagai contoh : menguras bak mandi/penampungan air
sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti dan menguras vas bunga dan tempat
minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan? air,
mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah?. Tumpah
atau bocornya air dari pipa distribusi, katup air, meteran air dapat
menyebabkan air menggenang dan menjadi habitat yang penting untuk larva Aedes
aegypti jika tindakan pencegahan tidak dilakukan.
b.
Biologis
Pengendalian biologis antara lain
dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri
(Bt.H-14). Peran pemangsa yang dimainkan oleh copepod crustacea (sejenis
udang-udangan) telah didokumentasikan pada tahun 1930-1950 sebagai predator
yang efektif terhadap Aedes aegypti (Kay BH., 1996). Selain itu juga digunakan
perangkap telur autosidal (perangkap telur pembunuh) yang saat ini sedang
dikembangkan di Singapura.
c.
Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain
dengan pengasapan (fogging) (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna
untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan
bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air,
vas bunga, kolam, dan lain-lain. Fogging
merupakan salah satu bentuk upaya untuk dapat memutus rantai penularan penyakit
DHF, dengan adanya pelaksanaan fogging diharapkan jumlah penderita Demam
Berdarah DHF dapat berkurang. Sebelum pelaksanaan fogging pada masyarakat telah
diumumkan agar menutup makanannya dan tidak berada di dalam rumah ketika
dilakukan fogging termasuk orang yang sakit harus diajak ke luar rumah dahulu,
selain itu semua ternak juga harus berada di luar. Namun demikian untuk
menghindari hal – hal yang tidak diinginkan maka dalam pelaksanaannya fogging
dilakukan oleh 2 orang operator. Operator I (pendamping) bertugas membuka
pintu, masuk rumah dan memeriksa semua ruangan yang ada untuk memastikan bahwa
tidak ada orang dalam rumah termasuk bayi, anak-anak maupun orang tua dan orang
yang sedang terbaring sakit, selain itu ternak-ternak sudah harus dikeluarkan
serta semua makanan harus sudah ditutup. Setelah siap operator pendamping ke
luar dan operator II (Operator swing Fog) memasuki rumah dan melakukan fogging
pada semua ruangan dengan cara berjalan mundur. Setelah selesai operator
pendamping baru menutup pintu. Rumah yang telah di fogging ini harus dibiarkan
tertutup selama kurang lebih satu jam dengan harapan nyamuk-nyamuk yang berada
dalam rumah dapat terbunuh semua, dengan cara ini nyamuk-nyamuk akan terbunuh
karena malathion bekerja secara “knoc donw”. Setelah itu fogging dilanjutkan di
luar rumah / pekarangan. Setelah satu rumah beserta pekarangannya selesai
difogging maka fogging dilanjutkan ke rumah yang lain, sampai semua rumah dan
pekarangan milik warga difogging.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
fogging dengan swing fog untuk mendapatkan hasil yang optimal adalah sebagai
berikut :
a. Konsentrasi
larutan dan cara pembuatannya. Untuk malation, konsentrasi larutan adalah 4 – 5
%.
b. Nozzle
yang dipakai harus sesuai dengan bahan pelarut yang digunakan dan debit
keluaran yang diinginkan.
c. Jarak
moncong mesin dengan target maksimal 100m, efektif 50m.d) Kecepatan berjalan
d.
ketika memfogging, untuk swing fog kurang lebih 500 m2 atau 2 – 3 menit untuk
satu rumah dan halamannya.
e.
Waktu fogging disesuaikan dengan kepadatan/aktivitas puncak dari nyamuk, yaitu
jam 09.00 – 11.00.
Dalam pelaksanaan fogging inipun telah diperhatikan hal-hal di atas sehingga
diharapkan hasilnya juga optimal. Berdasarkan hasil survei jentik ternyata
masih ditemukan jentik di 5 rumah penduduk. Jentik tersebut berada di kamar
mandi, satu kamar mandi ditemukan di luar rumah dengan kondisi kurang bersih
dan kurang terawat, sedang 4 kamar mandi yang lain berada di dalam rumah.
Bahkan satu kamar mandi terbuat dari keramik, namun demikian kamar mandi ini
berhubungan langsung dengan pekarangan yang cukup luas dengan tanaman-tanaman
besar yang cukup banyak, sehingga dimungkinkan nyamuk berasal dari pekarangan.
Bagi penduduk yang kamar mandinya masih ditemukan jentik, maka pada saat itu
juga team yang bertugas langsung memberikan pengarahan dan penyuluhan pada
pemilik rumah untuk membersihkan kamar mandinya agar tidak menjadi sarang
nyamuk.
Pendapat masyarakat
bahwa fogging merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah penyebaran
penyakit demam berdarah sebenarnya kurang tepat, karena cara ini sesungguhnya
hanya bertujuan untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti dewasa, sehingga jika di
beberapa rumah penduduk masih diketemukan jentik nyamuk, maka dimungkinkan
penularan demam berdarah masih berlanjut dengan dewasanya jentik yang menjadi
nyamuk. Apalagi siklus perubahan jentik menjadi nyamuk hanya membutuhkan waktu
kurang lebih satu minggu. Sehingga jika di daerah tersebut terdapat penderita
demam berdarah baru maka dimungkinkan akan cepat menyebar pula. Langkah yang
dianggap lebih efektif adalah dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
Pemerintah juga memberdayakan
masyarakat dengan mengaktifkan kembali (revitalisasi) pokjanal DBD di
Desa/Kelurahan maupun Kecamatan dengan fokus pemberian penyuluhan kesehatan
lingkungan dan pemeriksaan jentik berkala. Perekrutan warga masyarakat sebagai
Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dengan fungsi utama melaksanakan kegiatan
pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk secara periodik dan penyuluhan
kesehatan. Peran media massa dalam penanggulangan KLB DBD dan sebagai
peringatan dini kepada masyarakat juga ditingkatkan. Dengan adanya sistem
pelaporan dan pemberitahuan kepada khalayak yang cepat diharapkan masyarakat
dan departemen terkait lebih wasapada. Intensifikasi pengamatan (surveilans)
penyakit DBD dan vektor dengan dukungan laboratorium yang memadai di tingkat
Puskesmas Kecamatan/Kabupaten juga perlu dibenahi (Kristina et al., 2004).
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1.
Lokasi
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di Kelurahan Mokoau Kecamatan Kambu. Pemilihan lokasi ini
dilakukan karena di desa Mokoau masyarakat menunjukkan upayanya dalam mencegah
timbulnya penyakit DBD.
3.2.
Informan
Penelitian
Yang
menjadi informan penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di
kelurahan Mokoau yaitu Mahasiswa dan warga dikelurahan tersebut.
3.3.
Tehnik pengumpulan data
1.
studi
penelitian lapangan (field research)
kegiatan
penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengamatan langsung kelokasi
penelitian guna mendapatkan data dan informasi dan keterangan-keterangan yang
lebih obyektif dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu :
a. Observasi (pengamatan)
Mengadakan
pengamatan langsung di lapangan untuk melihat realitas dan kondisi masyarakat
yang berhubungan dengan upaya penceghan penyakit dbd.
b. Interview (wawancara)
Tehnik
wawancara ini dilakukan dengan cara tanya jawab langsung di lapangan dengan
informasi khususnya para warga kelurahan Mokoau
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kelurahan Mokoau merupakan pemekaran dari Kelurahan Kambu Kecamatan Poasia Kota Kendari dengan luas wilayah + 12,52 Km² ha, secara administrasi Kelurahan Mokoau dibatasi oleh:
Sebelah timur berbatasan dengan Kel. AnduonuhuØ Sebelah barat berbatasan dengan Kel. Lepo-lepoØ Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan BarugaØ Sebelah utara berbatasan dengan Kel. Kambu
Kelurahan Mokoau dapat
ditempuh dengan menggunakan angkutan darat dengan jarak 3 km dari pusat
pemerintahan Kecamatan dan + 5 km dari Kotamadya serta 1 km dari Ibu Kota
Propinsi dengan ketinggian + 40 meter dari permukaan laut dan bertopografi
datar, dengan kedalaman air tanah + 6 meter.
Kelurahan Mokoau terdiri dari 4 RW serta 8 RT dimana lingkungan tersebut adalah:
Kelurahan Mokoau terdiri dari 4 RW serta 8 RT dimana lingkungan tersebut adalah:
Lingkungan Watuliandu meliputi BTN Kendari PermaiØ Lingkungan Koropu meliputi BTN Wahana Prima Asri dan BTN Asatata.Ø Lingkungan Aneputi meliputi jalan yang membatasi Kelurahan Mokoau dengan Kelurahan Kambu
Struktur Organisasi
Struktur organisasi pemerintahan Kelurahan Mokoau senantiasa berpedoman pada PERDA Kota Kendari Nomor: 11 Tahun 2008 tentang pembentukkan organisasi dan tata kerja kecamatan dan keluruhan Kota Kendari dan peraturan Walikota Kendari Nomor: 44 Tahun 2008 tentang penjabaran tugas pokok dan fungsi Keluruhan Kota Kendari, dimana pelaksanaan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan dipimpin oleh lurah dibantu sekretaris dan 4 (empat) orang kepala seksi. Berdasarkan ketentuan tersebut maka susunan organisasi pemerintahan Keluruhan Mokoau adalah 1 orang Kepala Lurah, 1 orang sekretaris, dan 4 orang kepala seksi.
4.1.1. Keadaan
Demografis
1. Jumlah Penduduk
Penduduk Kelurahan Mokoau berjumlah 2.871 jiwa, yang terdiri dari 1.518 jiwa laki-laki dan 1.353 jiwa wanita, dimana terdiri dari 780 keluarga
2. Komposisi Penduduk
Menurut
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Penduduk Kelurahan Mokoau mayoritas beragama
Islam dengan jumlah 2.795 orang,
sedangkan sisanya 54
orang beragama Kristen, 10 orang beragama Katolik, 8 orang beragama Hindu, dan 5 orang beragama
Budha. Menurut Usia . Jumlah penduduk berdasarkan usia terbagi atas
2 kelompok, yaitu usia kelompok pendidikan dan usia kelompok tenagakerja.
4.2. Cara
pemberantasan penyakit DBD
Upaya Masyarakat
memberantas penyakit DBD Di Lingkungan Kelurahan Mokoau diwujudkan
dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan, upaya masyarakat menjaga kebersihan
lingkungan biasa dilakukan sepekan sekali atau pada saat kegiatan BAKSOS yang
biasa dilaksanakan di kelurahan tersebut, seperti yang dikemukakan oleh ibu Wa
tati :
Dalam
upaya pemberantasan agar nyamuk DBD, bisa hilang biasanya kita dikelurahan
ini kita adakan kerja-kerja bersama
seperti membersihkan lingkungan setiap minggu, got-got juga to kita kasi bersih
biar air tidak tertampung apalagi kalau hujan, supaya enda banjir, selain sehat
, terlihat indahmi juga
pekerjaan
ini tidak dihargai dengan uang, tetapi besar pengaruhnya terhadap pencapaian
dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Upaya masyarakat di kelurahan tersebut
bisa kita lihat dari Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut
antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat,
modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk dan perbaikan desain rumah. Sebagai
contoh : menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu,
mengganti dan menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali,
menutup dengan rapat tempat penampungan? air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki
bekas dan ban bekas di sekitar rumah?. Tumpah atau bocornya air dari pipa
distribusi, katup air, meteran air dapat menyebabkan air menggenang dan menjadi
habitat yang penting untuk larva Aedes aegypti jika tindakan pencegahan tidak
dilakukan, dan pengasapan (fogging) (dengan
menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan
penularan sampai batas waktu tertentu. Memberikan bubuk abate (temephos) pada
tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan
lain-lain.
Fogging merupakan salah satu bentuk upaya untuk dapat memutus rantai penularan
penyakit DHF, dengan adanya pelaksanaan fogging diharapkan jumlah penderita
Demam Berdarah DHF dapat berkurang. Sebelum pelaksanaan fogging pada masyarakat
telah diumumkan agar menutup makanannya dan tidak berada di dalam rumah ketika
dilakukan fogging termasuk orang yang sakit harus diajak ke luar rumah dahulu,
selain itu semua ternak juga harus berada di luar. Namun demikian untuk
menghindari hal – hal yang tidak diinginkan maka dalam pelaksanaannya fogging
dilakukan oleh 2 orang operator. Operator I (pendamping) bertugas membuka
pintu, masuk rumah dan memeriksa semua ruangan yang ada untuk memastikan bahwa
tidak ada orang dalam rumah termasuk bayi, anak-anak maupun orang tua dan orang
yang sedang terbaring sakit, selain itu ternak-ternak sudah harus dikeluarkan
serta semua makanan harus sudah ditutup. Setelah siap operator pendamping ke
luar dan operator II (Operator swing Fog) memasuki rumah dan melakukan fogging pada
semua ruangan dengan cara berjalan mundur. Setelah selesai operator pendamping
baru menutup pintu. Rumah yang telah di fogging ini harus dibiarkan tertutup
selama kurang lebih satu jam dengan harapan nyamuk-nyamuk yang berada dalam
rumah dapat terbunuh semua, dengan cara ini nyamuk-nyamuk akan terbunuh karena
malathion bekerja secara “knoc donw”. Setelah itu fogging dilanjutkan di luar
rumah / pekarangan. Setelah satu rumah beserta pekarangannya selesai difogging
maka fogging dilanjutkan ke rumah yang lain,
4.3.
Cara pencegahan penyakit DBD
Upaya
warga kelurahan Mokoau dalam mencegahan DBD dilakukan dengan menghindari
gigitan nyamuk diwaktu pagi sampai sore, karena nyamuk aedes aktif di siang
hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di lokasi yang banyak
nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD nya.
Beberapa cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD melalui metode
pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah :
pengendalian non-kimia, dilakukan dengan cara menjaga
sanitasi / kebersihan lingkungan yaitu pada umumnya 3M: Menguras dan menyikat
dinding bak penampungan air kamar mandi; karena jentik / larva nyamuk demam
berdarah (Aedest Aegypti) akan menempel pada dinding bak penampungan air
setelah dikuras dengan ciri-ciri berwarna kehitam-hitaman pada dinding, hanya
dengan menguras tanpa menyikat dinding maka jentik / larva nyamuk demam
berdarah (Aedest Aegypti) tidak akan mati karena mampu hidup dalam
keadaan kering tanpa air sampai dengan 6 (enam) bulan, jadi setelah
dikuras diding tersebut harus disikat. Menutup rapat – rapat bak – bak
penampungan air; yaitu seperti gentong untuk persediaan air minum, tandon air,
sumur yang tidak terpakai karena nyamuk demam berdarah (Aedest Aegypti)
mempunyai ethology lebih menyukai air yang jernih untuk reproduksinya, Mengubur
barang-barang yang tidak berguna tetapi dapat menyebabkan genangan air yang
berlarut-larut ini harus dihindari karena salah satu sasaran tempat nyamuk
untuk bereproduksi. Hal ini diperkuat dengan pendapat tasman (22
tahun) mengemukakan bahwa:
upaya
yang paling efektif menurut saya adalah melakukan 3 M , yaitu mengubur
,maksudnya mengubur barang-barang bekas, menutup, maksudnya menutup tempat
penampungan air seperti bak, ember dll, karena jika tidak dapat menjadi tempat
berkembangnya dentik nyamuk, dan menguras, biasa kita lakukan seminggu sekali,
bak dicuci dan airnya diganti
memasang
kasa nyamuk atau screening yang berfungsi untuk pencegahan agar nyamuk dewasa
tidak dapat mendekat pada linkungan sekitar kita.
Dengan
menggunkan Insect Light Killer yaitu perangkap untuk nyamuk yang menggunakan
lampu sebagai bahan penariknya (attractan) dan untuk membunuhnya dengan
mengunakan aliran listrik. Cara kerja tersebut sama dengan Electric Raket.
Beberapa upaya untuk menurunkan,
menekan dan mengendalikan nyamuk dengan cara pengelolaan lingkungan adalah
sebagai berikut:
1.
Modifikasi Lingkungan
Yaitu setiap kegiatan yang mengubah
fisik lingkungan secara permanen agar tempat perindukan nyamuk hilang. Kegiatan
ini termasuk penimbunan, pengeringan, pembuatan bangunan (pintu, tanggul dan
sejenisnya) serta pengaturan sistem pengairan (irigasi). Kegiatan ini di
Indonesia populer dengan nama kegiatan pengendalian sarang nyamuk ”3M” yaitu
dari kata menutup, menguras dan menimbun berbagai tempat yang menjadi sarang
nyamuk.
2. Manipulasi
Lingkungan
Yaitu suatu bentuk kegiatan untuk
menghasilkan suatu keadaan sementara yang tidak menguntungkan bagi keberadaan
nyamuk seperti pengangkatan lumut dari laguna, pengubahan kadar garam dan juga
sistem pengairan secara berkala di bidang pertanian.
3.
Mengubah atau Memanipulasi Tempat Tinggal dan Tingkah Laku
Yaitu kegiatan yang bertujuan
mencegah atau membatasi perkembangan vektor dan mengurangi kontak dengan manusia.
Pendekatan ini dilakukan dengan cara menempatkan dan memukimkan kembali
penduduk yang berasal dari sumber nyamuk (serangga) penular penyakit,
perlindungan perseorangan (personal protection), pemasangan rintangan-rintangan
terhadap kontak dengan sumber serangga vektor, penyediaan fasilitas air,
pembuangan air, sampah dan buangan lainnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Penyebaran
penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus,
sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit DBD akan
mungkin ada penderita lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar
biasa bagi penduduk disekitarnya.
Pencegahan dilakukan dengan
menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi sampai sore, karena nyamuk aedes aktif
di siang hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di lokasi yang
banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD nya.
Lingkungan
dan kesehatan memilki hubungan. Lingkungan yang tidak sehat maka memungkinkan
akan timbulnya berbagai macam penyakit seperti DBD
Untuk
mencegah timbulnya berbagai penyakit kita bisa melakukan dengan pola hidup
lingkungan yang bersih. Berdasarkan
hasil pembahasan masalah yang telah dibuat, dapat diambil kesimpulan bahwa
fogging merupakan salah satu upaya untuk memberantas nyamuk yang merupakan
vektor penyakit demam berdarah sehingga rantai penularan penyakit dapat
diputuskan. Selain fogging juga dapat dilakukan abatisasi, yaitu penaburan
abate dengan dosis 10 gram untuk 100 liter air pada tampungan air yang
ditemukan jentik nyamuk. Penyuluhan dan penggerakan masyarakat dalam PSN (
Pemberantasan Sarang Nyamuk ) dengan 3M, yaitu : Menguras, Menutup
tampungan air, dan Mengubur barang-barang bekas yang dapat
menjadi sarang nyamuk juga dapat menjadi cara untuk memberantas DBD.
5.2
Saran
Setiap
individu sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit DBD tersebut,
sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga
diri dan lingkungannya dari kemungkinan terserangnya demam berdarah.
2. Perlunya digalakkan Gerakan 3 M plus,tidak hanya bila terjadi wabah
tetapi harus dijadikan gerakan nasional
melalui pendekatan masyarakat.
3. Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS) perlu dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna.
4.
Segenap
pihak yang terkait dapat bekerja sama untuk mencegah DBD.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar